penulis Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi
Syariah Akhlak 05 - Mei - 2005 12:50:08
Setiap orang diberi fitrah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa kesucian . Ia akan mengawali kehidupan dgn fitrah suci ini. Setelah itu bisa terjadi perubahan yg sangat cepat dan drastis tanpa bisa diduga arahnya. Para penyeru kerusakan fitrah ini jumlah sangat banyak sehingga jangan heran bila orang yg keluar dari jalur kesucian jiwa ini lbh banyak daripada yg istiqamah.
Lingkungan teman keluarga masyarakat dan pendidikan memiliki andil besar dlm hal ini. Media massa juga tdk kalah hebat memberikan andil terjadi kerusakan tersebut. Keinginan utk merubah diri telah hilang dari kebanyakan orang sementara bola api yg ditendang oleh para penyeru kerusakan itu membakar di sana sini. Bila terkena percikan akan menjadi abu yg siap ditiup angin sementara hampir tdk ada orang yg tampil membantu dan membela krn orang yg ingin menolong pun tdk lepas pula dari mangsa bola api tersebut. Di saat kritis seperti inilah tiap insan sangat butuh kepada wahyu yg akan menyirami menyejukkan dan memelihara dirinya. Setelah itu akan sangat jelas lagi siapa yg akan selamat di atas wahyu tersebut dan yg akan binasa selama-lamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْياَ مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ
“Agar orang yg binasa itu binasa dgn keterangan yg nyata dan agar orang yg hidup itu hidup dgn keterangan yg nyata pula.”
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan : “ agar menjadi hujjah dan penjelas bagi tiap penentang saat dia memilih jalan kekafiran daripada ilmu sehingga ia tdk lagi memiliki alasan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan terus menambah ilmu bagi orang2 yg beriman. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperlihatkan di hadapan kedua kelompok tersebut segala yg menjadi bukti yg benar dan nyata. Semua ini menjadi peringatan bagi orang yg berakal.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَوَمَنْ كاَنَ مَيْتاً فَأَحْيَيْناَهُ وَجَعَلْناَ لَهُ نُوْرًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُماَتِ لَيْسَ بِخاَرِجٍ مِنْهاَ
“Dan apakah orang yg sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepada cahaya yg terang yg dgn cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia serupa dgn orang yg keadaan berada dlm gelap gulita yg sekali-kali tdk dapat keluar darinya?”
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun bagi orang tersebut cahaya dan kehidupan sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun bagi orang yg berpaling dari Kitab-Nya antara kematian dan kegelapan. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: ‘Seluruh ahli tafsir menjelaskan bahwa yg dimaksud oleh ayat ini adl seseorang yg kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu Dia memberikan kepada hidayah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يآ أَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَجِيْبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُوْلِ إِذَا دَعاَكُمْ لِماَ يُحْيِيْكُمْ
“Hai orang2 yg beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yg memberi kehidupan kepada kalian.”
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sesungguh kehidupan yg bermanfaat akan terwujud apabila kita memenuhi seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Barangsiapa tdk memenuhi dia tdk mendapatkan kehidupan. Dan jika dia memiliki kehidupan yg selalu melampiaskan hawa nafsu mk kehidupan sama dgn kehidupan binatang yg paling rendah. mk kehidupan yg hakiki adl kehidupan dlm memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya baik lahiriah maupun batiniah. Mereka hidup walaupun jasad mereka telah mati dan selain mereka mati walaupun jasad mereka hidup.”
Dengan kejelasan hujjah Allah Subhanahu wa Ta’ala ini masih saja ada manusia yg berusaha mengelak bila hujjah itu mengenai diri pemikiran keyakinan amalan dan sebagainya. mk muncullah orang2 yg phobi terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia bagaikan mendengar suara halilintar yg akan menyambar dan memecah gendang telinga.
Namun ada orang yg menjadikan ayat-ayat yg didengar dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg dibacakan bagaikan siraman kesejukan atas kegersangan hidupnya. Dia bisa mengambil manfaat utk keselamatan diri dan menjadikan sebagai tameng dari murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di sinilah terlihat betapa mahal hidayah dan Maha Bijaksana Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm ketentuan-Nya. Oleh krn itu manusia di hadapan wahyu tdk terlepas dari dua keadaan dan kedua telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dlm sabda beliau:
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أوْ عَلَيْكَ
“Dan Al-Qur’an akan menjadi hujjah bagimu atau menjadi penggugat atas dirimu.”
Tiga penyeru pada diri tiap insan
Bila tiap orang sadar dan introspeksi ia akan menemukan ada penyeru di dlm diri yg akan mengajak kepada ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala ataupun kepada murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh krn itu tiap jiwa jangan sekali-kali suka mengkambinghitamkan orang lain dan hendaklah dia mengarahkan cercaan itu kepada diri sendiri. Ada tiga penyeru yg masing-masing memiliki kekuatan besar pada diri tiap orang dan ketiga kekuatan akan saling menjatuhkan satu sama lain bila salah satu mendapatkan peluang dan kesempatan yg lbh banyak.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sesungguh pada tiap jiwa ada tiga seruan dan pendorong yg saling menarik. Satu seruan mengajak diri utk berhias dgn sifat-sifat setan seperti sifat sombong hasad cinta ketinggian dzalim berbuat jahat suka mengganggu suka kerusakan dan penipuan. Penyeru yg mengajak utk berakhlak seperti binatang itulah seruan syahwat. Dan seruan yg mengajak kepada akhlak para Malaikat seperti ihsan suka menasihati menganjurkan kepada kebajikan ilmu dan ketaatan. Penyeru ketiga adl kurang atau tdk ada muru`ah .”
Senang kedudukan dan berbuat dzalim adl akhlak setan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengungkap satu sifat yg tersembunyi pada diri anak Adam di mana sifat ini sangat berbahaya yaitu sifat tamak dan rakus. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ أَنَّ ِلإِبْنِ آدَامَ وَادِياً مِنْ ذَهَبٍ لأَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَادِياَنِ وَلَنْ يَمْلأَ فاَهُ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تاَبَ
“Jika anak Adam memiliki satu lembah emas dia akan mencari agar menjadi dua lembah dan tdk ada yg akan menutup mulut melainkan tanah. Dan Allah menerima taubat orang yg bertaubat.”
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: Al-Karmani berkata: “Yang dimaksud hadits ini bukan hanya satu anggota badan saja krn tanah tdk hanya menutupi mulut saja namun yg lain pun bisa tertutupi. Hadits ini merupakan kinayah tentang kematian yg akan menutupi seluruh jasad seakan-akan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak akan merasa puas dari dunia sampai dia mati.”
Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata: Ath-Thibi berkata: “Makna hadits ini adl bahwa anak Adam diberi tabiat cinta kepada harta benda dan tdk merasa puas utk mengumpulkan kecuali orang2 yg telah dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diberi taufiq utk menghilangkan tabiat ini dan sedikit sekali dari mereka yg mendapatkan taufiq.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Makna hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu adl bahwa bani Adam tdk akan merasa puas dari harta benda. Jika dia memiliki satu lembah dia akan berusaha utk menjadi dua lembah dan tdk ada yg akan menutupi mulut melainkan tanah bila dia telah mati dan meninggalkan dunianya. mk di saat inilah dia menjadi percaya setelah dunia hilang darinya. Bersamaan dgn itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan utk bertaubat krn mayoritas orang yg rakus dunia tdk akan memelihara diri dari perkara yg Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan.”
Apabila seseorang tdk mendapatkan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar terlepas dari sifat rakus mk dia akan berusaha utk menjadi orang nomor satu dan yg paling tinggi. Dia akan menumbangkan tiap orang yg akan menggeser kedudukan sehingga tdk takut lagi utk mendzalimi saudara sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ اْلآخِرَةُ نَجْعَلُهاَ لِلَّذِيْنَ لاَ يُرِيْدُوْنَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فَساَدًا
“Negeri akhirat itu Kami jadikan utk orang2 yg tdk menyombongkan diri dan tdk berbuat kerusakan.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Manusia itu terbagi menjadi empat macam. Pertama orang2 yg menginginkan ketinggian atas orang lain dan menginginkan kerusakan di muka bumi yaitu dgn bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka itu adl tingkatan para raja dan pemimpin yg merusak. Kedua orang2 yg menginginkan kerusakan dan sama sekali tdk menginginkan ketinggian seperti hal pencuri pelaku maksiat dari kalangan orang2 rendahan. Ketiga orang yg menginginkan ketinggian dgn tdk menginginkan kerusakan seperti seseorang yg memiliki ilmu agama dan dia menginginkan ketinggian dari orang lain. Keempat mereka adl penduduk surga yg tdk menginginkan ketinggian di muka bumi dan kerusakan akan tetapi dia lbh tinggi kedudukan dari yg lain.”
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa negeri akhirat dan keni’matan yg abadi tdk akan berpindah apalagi hilang. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkan bagi hamba-hamba-Nya yg beriman merendahkan diri dan tdk menginginkan sedikitpun ketinggian di muka bumi. Arti tdk mengangkat dan membesarkan diri di hadapan makhluk angkuh dan melakukan kerusakan di tengah-tengah mereka sebagaimana ucapan ‘Ikrimah al-‘ulu arti keangkuhan Sa’id bin Jubair berkata al-‘ulu arti kedzaliman Sufyan Ats-Tsauri mengatakan dari Manshur dari Muslim Al-Bithin al-‘ulu di muka bumi arti ‘menyombongkan diri dgn kebatilan dan kerusakan’ yakni mengambil harta orang lain dgn cara tdk benar.”
Kerusakan yg diakibatkan oleh sifat rakus adl besar. Mari kita menyimak apa yg disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Kerusakan yg diakibatkan oleh dua ekor serigala yg lapar kemudian dilepas pada seekor kambing tdk akan lbh besar dibanding seseorang yg rakus terhadap kedudukan dan harta benda bagi agamanya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa rakus seseorang terhadap harta benda dan kedudukan akan merusak agama dan kerusakan ini lbh dahsyat dibanding kerusakan dua serigala yg sedang lapar terhadap kambing yg menyendiri.”
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: www.asysyariah.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar